banner 728x250

Serunya Buceng Porak di Ponorogo, Tradisi Berebut Gunungan Pembawa Berkah

banner 120x600
banner 468x60

Foto: Prokopim / ​Bunda Lisdyarita menyampaikan tradisi Buceng Porak memiliki makna yang sangat mendalam.

Ringkasan Berita:

banner 325x300
  • Ribuan warga memadati kawasan Monumen Bantarangin, Ponorogo, untuk menyaksikan dan mengikuti tradisi Buceng Porak, yaitu tradisi merebut lima buceng (tumpeng) raksasa berisi hasil bumi.
  • ​Acara ini merupakan simbol sedekah bumi, wujud rasa syukur atas kesuburan tanah Ponorogo, serta media doa bersama agar masyarakat diberikan kesehatan, kelancaran hidup, dan dijauhkan dari marabahaya/wabah.

PONOROGO MAKNAJATIM — Kawasan Monumen Bantarangin, Kecamatan Kauman, mendadak berubah menjadi lautan manusia pada Selasa (14/7/2026).

Ribuan warga datang menyemut demi menyaksikan sekaligus terlibat langsung dalam tradisi Buceng Porak, yang menjadi puncak prosesi Grebeg Tutup Suro paling dinantikan tahun ini.

​Kemeriahan dimulai saat lima buceng (tumpeng) raksasa yang menggunung dengan aneka hasil bumi diarak megah dari Pendopo Kecamatan Kauman.

Warna-warni sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian yang subur menjadi pemandangan pemikat sepanjang rute kirab menuju Monumen Bantarangin.​Setibanya di lokasi, riuh penonton sempat hening sejenak. Prosesi sakral dimulai dengan doa bersama, memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah kesuburan tanah Ponorogo.

​Namun, begitu doa selesai dipanjatkan, atmosfer langsung berubah drastis menjadi super seru!

Warga yang sudah tak sabar langsung merangsek maju. Dengan penuh antusias namun tetap tertib, mereka saling berebut berbagai hasil bumi dari buceng raksasa tersebut.

Bagi masyarakat, membawa pulang isi buceng bukan sekadar urusan perut, melainkan simbol harapan akan datangnya berkah bagi keluarga di rumah.

​“Ini adalah doa teatrikal kita kepada Gusti Kang Akaryo Jagad. Ini adalah simbol dari sedekah bumi, wujud rasa tahu diri dan rasa syukur kita atas tanah Ponorogo yang subur,” ungkap Plt Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, yang turut hadir di tengah kegembiraan warga.

​Bunda Lisdyarita menambahkan bahwa tradisi Buceng Porak memiliki makna yang sangat mendalam. Hasil bumi yang diperebutkan bukan sekadar formalitas budaya, melainkan media doa kolektif masyarakat Ponorogo.

​“Lewat buceng hasil bumi, terselip doa kita bersama. Semoga keluarga kita di rumah diberikan kesehatan, anak-cucu kita diberikan kelancaran hidupnya, dan bumi Ponorogo dijauhkan dari segala pagebluk (wabah) dan marabahaya,” pungkasnya penuh harap.

​Tradisi Grebeg Tutup Suro ini sekali lagi membuktikan bahwa Ponorogo tidak hanya kaya akan budaya seperti Reog, tetapi juga memiliki ikatan spiritual dan gotong royong yang kuat melalui simbol-simbol alamnya.

Buceng Porak sukses menjadi pesta rakyat yang mempererat kebersamaan sekaligus merawat warisan leluhur.

Editor: Tatang Dahono

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *