banner 728x250

Sate Ponorogo Awet 1 Tahun Mahasiswa IPB Siap Go International

banner 120x600
banner 468x60

Foto: Prokopim / 117 mahasiswa Fakultas Teknik dan Teknologi Institut Pertanian Bogor (IPB) resmi diterjunkan untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi di Bumi Reog.

 

banner 325x300

Ringkasan Berita:

  • Mengusung tema “Pengembangan Berkelanjutan Masyarakat Argomaritim untuk mencapai Socio-Resilience”, bertujuan melatih mahasiswa menjadi pemecah masalah langsung di masyarakat.
  • ​ Ini merupakan tahun keempat kerja sama Ponorogo-IPB, yang sebelumnya telah berhasil menciptakan inovasi pengemasan sate Ponorogo awet 1 tahun dengan target ekspor untuk jemaah haji.
  • ​Pesan Bupati, mahasiswa diharapkan membawa inovasi baru serta wajib menghormati kearifan lokal di wilayah penempatan.

PONOROGO MAKNAJATIM  – Kabupaten Ponorogo kembali dipercaya menjadi rumah bagi para agen perubahan muda.

Sebanyak 117 mahasiswa Fakultas Teknik dan Teknologi Institut Pertanian Bogor (IPB) resmi diterjunkan untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi di Bumi Reog.

​Kehadiran para intelektual muda ini disambut hangat oleh Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, bersama jajaran perangkat daerah di Pendopo Agung Ponorogo pada Senin (6/7/2026).

​Tahun ini, program KKNT Inovasi IPB akan berlangsung selama 40 hari—mulai 6 Juli hingga 14 Agustus 2026.

Sebanyak 15 desa yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Ngrayun, Pulung, dan Pudak, dipilih menjadi titik fokus (lokus) gerakan mereka.

​Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi IPB, Slamet Budijanto, menjelaskan bahwa KKNT kali ini mengusung tema besar: “Pengembangan Berkelanjutan Masyarakat Argomaritim untuk mencapai Socio-Resilience”.

​Lewat tema ini, mahasiswa ditantang untuk tidak hanya sekadar belajar teori, melainkan menjadi problem solver langsung di tengah masyarakat.

​“Mereka punya program pemberdayaan masyarakat, apa yang dibutuhkan masyarakat dipecahkan bersama.

KKNT bertujuan membekali mahasiswa, biar mereka tahu inilah keadaan Indonesia dan kelak menjadi pemimpin yang tahu kondisi ril di masyarakat,” terang Slamet.

​Kerja sama antara IPB dan Kabupaten Ponorogo ini ternyata bukan barang baru.

Slamet menambahkan, KKNT Inovasi ini telah sukses dilaksanakan selama empat tahun berturut-turut di Ponorogo.

​Salah satu warisan inovasi monumental yang berhasil diciptakan sebelumnya adalah teknologi pengemasan dan pengawetan sate ayam khas Ponorogo yang mampu bertahan hingga satu tahun tanpa mengurangi kualitasnya.

Tak main-main, target ke depan inovasi ini akan didorong ke ranah internasional.

​“Sate Ponorogo bisa diawetkan 1 tahun, jadi bisa dinikmati untuk makanan jemaah haji misalnya.

Target tahun depan nanti kita koordinasikan dengan Kementerian Haji agar lebih maksimal,” ungkap Slamet optimistis.


​Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi IPB dalam membangun Ponorogo.

Ia berharap kehadiran mahasiswa mampu membawa angin segar, baik dari segi transfer ilmu pengetahuan, teknologi, maupun pemberdayaan ekonomi.

​“Kehadiran mahasiswa sangat kami nantikan untuk membawa inovasi baru di tengah masyarakat,” tutur Bunda Lisdyarita.

​Mengingat 15 desa lokasi KKNT berada di wilayah yang cukup jauh dari pusat kota dan masih memegang teguh adat istiadat, Bunda Lisdyarita menitipkan pesan penting terkait etika dan komunikasi.

​“Anggaplah seperti kota sendiri, tetapi tetap ingat untuk menghormati kearifan lokal. Selalu menjalin koordinasi dengan kepala desa dan tokoh setempat agar program yang dibawa berjalan maksimal,” pungkasnya.

Sebagai informasi: Pelaksanaan KKNT Inovasi IPB 2026:
​Durasi: 40 Hari (6 Juli – 14 Agustus 2026)

​Personel: 117 Mahasiswa Fakultas Teknik dan Teknologi IPB

​Lokasi Fokus: 15 Desa di Kecamatan Ngrayun, Pulung, dan Pudak

​Fokus Utama: Pemberdayaan masyarakat, solusi masalah lokal, dan keberlanjutan ekonomi/sosial.

Editor: Tatang Dahono

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *