Foto: Boby / Puguh Purnomo Ketua Askab PSSI Trenggalek
Ringkasan Berita:
- Mulai musim 2026, Askab PSSI Trenggalek mewajibkan seluruh klub yang ingin berlaga di Trenggalek Soccer League (TSL) untuk berbadan hukum dan menggunakan aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP).
- Dari 32 klub yang ada, baru 12 klub yang berbadan hukum, sementara 20 klub lainnya harus segera mengurus legalitas. Selain itu, mayoritas pengurus klub masih kesulitan mengoperasikan aplikasi SIAP.
- Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo, menegaskan akan memberikan pendampingan intensif terkait teknologi dan legalitas sebelum kompetisi dimulai.
- TSL 2026 ditargetkan bergulir pada September atau Oktober 2026 dengan kiblat kompetisi yang profesional sesuai regulasi resmi PSSI.
TRENGGALEK MAKNAJATIM – Wajah sepak bola lokal Trenggalek bersiap mengalami perombakan besar-besaran.
Tidak ada lagi tempat bagi manajemen amatir atau klub yang dikelola “seadanya”.
Mulai musim 2026, Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Trenggalek resmi mengetok palu: Seluruh klub wajib melek digital dan berbadan hukum jika ingin mencicipi rumput Trenggalek Soccer League (TSL) 2026.
Keputusan berani ini lahir dari forum silaturahmi dan evaluasi panas yang mempertemukan Askab PSSI Trenggalek dengan 32 klub Sekolah Sepak Bola (SSB) se-Kabupaten pada Kamis (3/7/2026).
Dua syarat mutlak yang disepakati adalah kewajiban menggunakan aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) serta kepemilikan badan hukum resmi.
Ketua Askab PSSI Trenggalek, Puguh Purnomo, menegaskan bahwa langkah ekstrem ini diambil demi memutus rantai manajemen kuno dan mengintegrasikan sepak bola Trenggalek langsung ke radar Asprov PSSI Jawa Timur hingga PSSI Pusat.
“Mulai TSL nanti seluruh klub wajib menggunakan aplikasi SIAP. Selain itu, klub yang mengikuti TSL juga wajib berbadan hukum,” tegas Puguh tanpa kompromi.
Namun, regulasi baru ini ibarat alarm keras bagi mayoritas klub di Trenggalek.
Berdasarkan data yang dihimpun, dari 32 klub yang ada, baru 12 klub yang mengantongi status badan hukum. Artinya, ada 20 klub yang harus berpacu dengan waktu mengurus legalitas jika tidak ingin menjadi penonton di musim depan.
Masalah tidak berhenti di sana. Penguasaan aplikasi SIAP—yang menjadi jantung administrasi sepak bola nasional—masih menjadi hantu yang membingungkan bagi sebagian besar pengurus klub lokal.
Sadar bahwa migrasi digital ini bisa memicu “gegar budaya” bagi manajemen klub, Puguh memastikan Askab PSSI Trenggalek tidak akan melepas klub berjuang sendirian.
Pendampingan intensif akan digeber sebelum peluit pertama kompetisi dibunyikan.
“Aplikasinya akan kami serahkan ke klub masing-masing. Sebelum itu tentu ada pendampingan. Jadi tidak akan kami lepas begitu saja.
Lebih lanjut Puguh menyampaikan kick-off TSL 2026 ditargetkan bergulir pada September atau Oktober 2026.
Fokus utama saat ini pendampingan teknologi (Aplikasi SIAP) dan penuntasan legalitas klub.
Seluruh kompetisi akan berkiblat ketat pada statuta, Peraturan Organisasi (PO), dan regulasi resmi PSSI.
Dengan ketukan palu ini, Askab PSSI Trenggalek sedang mengirim pesan jelas ke seluruh penjuru kabupaten, Sepak bola modern bukan lagi soal 11 orang mengejar bola di lapangan, melainkan profesionalitas di dalam dan di luar stadion. Klub yang menolak berevolusi, bersiaplah tergilas zaman.
Editor: Tatang Dahono


















