banner 728x250

Ponorogo Siap Sokong Swasembada Pangan Nasional

banner 120x600
banner 468x60

Foto: Prokopim / Ponorogo punya potensi besar dalam menyokong ketahanan pangan di tingkat regional maupun nasional

Ringkasan Berita:

banner 325x300

Wamenko Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menilai Ponorogo memiliki potensi besar menyokong ketahanan pangan nasional dengan luas panen 74 ribu ha padi dan 34 ribu ha jagung.

​Untuk optimalisasi, pemerintah daerah diminta fokus pada perlindungan lahan dari alih fungsi dan intensifikasi pertanian berbasis teknologi modern (benih unggul & alsintan).

Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, menegaskan komitmennya untuk menjaga tren positif produksi (capaian 2025: 436 ribu ton padi dan 284 ribu ton jagung) sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani hulu lewat sinergi lintas sektor.

PONOROGO MAKNAJATIM – Sektor pertanian di Kabupaten Ponorogo dinilai memiliki keistimewaan dan potensi besar dalam menyokong ketahanan pangan di tingkat regional maupun nasional.

Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, bahkan menyebut Bumi Reog telah memenuhi seluruh syarat yang dibutuhkan untuk mendukung program swasembada pangan nasional.

​Hal tersebut ditegaskan Hanif di sela-sela kegiatan panen jagung massal sekaligus dialog interaktif bersama kelompok tani di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (4/7/2026).

​”Dengan luas area panen mencapai 74 ribu hektare untuk padi dan 34 ribu hektare untuk jagung, Ponorogo dipastikan mampu memberikan kontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional,” ujar Hanif.

​Meski memiliki modal luasan lahan yang menjanjikan, Hanif menggarisbawahi dua langkah strategis yang harus segera dioptimalkan oleh pemerintah daerah.

Dua langkah tersebut adalah perlindungan (ekstensi) lahan pertanian serta akselerasi intensifikasi pertanian.

​Menurut Hanif, perlindungan lahan mutlak dilakukan melalui regulasi teknis yang ketat guna menekan laju alih fungsi lahan (konversi lahan) produktif seminimal mungkin.

Sementara untuk intensifikasi, intervensi difokuskan pada pemanfaatan teknologi modern.
​”Intensifikasi pertanian harus ditempuh melalui penggunaan benih unggul, pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern, peningkatan sarana prasarana, serta penerapan teknologi tepat guna.

Para petani harus semakin familiar dengan teknologi modern agar produksi dan produktivitas hasil panen dapat lebih optimal,” imbuhnya.

​Di tempat yang sama, Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, membenarkan bahwa sektor agraris hingga kini masih menjadi salah satu penopang utama struktur perekonomian di Kabupaten Ponorogo, dengan komoditas padi dan jagung sebagai primadonanya.

​Berdasarkan data kuantitatif, performa sektor ini menunjukkan tren positif. Sepanjang tahun 2025 lalu, produksi padi di Ponorogo sukses menembus angka 436 ribu ton, sedangkan produksi jagung mencatatkan angka 284 ribu ton.

​Lisdyarita memastikan, Pemerintah Kabupaten Ponorogo terus menggulirkan berbagai program strategis demi menjaga tren positif tersebut.

Fokus pemerintah tidak hanya terpaku pada angka produksi, melainkan juga berorientasi pada peningkatan kesejahteraan para petani di hulu.

​”Produktivitas terus kami upayakan naik, kualitas hasil panen juga harus semakin baik. Namun yang paling penting, kesejahteraan petani harus kita perjuangkan bersama,” tegas Bunda Lisdyarita.

​Menutup dialog, Plt. Bupati Ponorogo berharap adanya sinergi yang kian solid antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta keterlibatan dunia usaha untuk mempercepat akselerasi pertanian Ponorogo yang maju dan berdaya saing global.

​”Alhamdulillah, kami bersyukur memiliki petani-petani hebat di Ponorogo. Etos kerja dan daya inovasi mereka di lapangan benar-benar luar biasa,” pungkasnya.

Editor: Tatang Dahono

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *