Foto: Boby / Toni Widianto saat wawancara dengan awak media
Ringkasan Berita:
- Revitalisasi Digeser ke 2027: Proyek di Pantai Karang Gongso, Pantai Prigi, dan Hutan Kota ditunda dari 2026 karena syarat administrasi belum lengkap.
- Target PAD Naik: Tahun 2027 dipatok Rp9,4 miliar (naik Rp200 juta dari target 2026 sebesar Rp9,2 miliar).
- Capaian 2026: Hingga kini, PAD Trenggalek sudah terkumpul Rp6,2 miliar (68,59%), lebih baik dari tahun lalu di tengah persaingan destinasi baru dan JLS.
TRENGGALEK MAKNAJATIM — Rencana besar Pemerintah Kabupaten Trenggalek untuk mempercantik wajah pariwisata daerah mengalami sedikit penyesuaian.
Proyek revitalisasi sejumlah destinasi andalan yang sedianya digarap tahun ini resmi digeser ke tahun 2027.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Trenggalek, Toni Widianto, mengungkapkan bahwa pergeseran jadwal ini dilakukan menyusul adanya sejumlah persyaratan administrasi maupun teknis yang belum sepenuhnya tercukupi pada 2026.
”Karena ada persyaratan yang belum tercukupi tahun 2026, kemudian pelaksanaannya kita geser ke tahun 2027,” ujar Toni usai melakukan rapat koordinasi bersama Komisi II DPRD Trenggalek, Senin (19/10/2026).
Meski jadwalnya bergeser, komitmen pemkab untuk mempercantik sektor pariwisata tidak surut.
Lokasi sasaran revitalisasi dipastikan tetap mengusung konsep awal yang dirancang untuk tahun 2026 yaitu:
- Pantai Karang Gongso
- Pantai Prigi
- Hutan Kota Trenggalek
Pembenahan ini tidak hanya berfokus pada penambahan daya tarik semata, melainkan juga penyempurnaan estetika serta penguatan sarana dan prasarana pendukung.
Pemerintah ingin memastikan fasilitas yang sempat mengalami penurunan kualitas setelah setahun pemakaian mendapat perhatian serius.
Dinas Pariwisata mematok target ambisius namun realistis untuk tahun depan.
Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata dipatok naik sebesar Rp200 juta, dari target tahun ini sebesar Rp9,2 miliar menjadi Rp9,4 miliar pada 2027.
Meski demikian, Toni tidak menampik bahwa proses pengerjaan fisik revitalisasi nantinya sedikit banyak akan memengaruhi performa pelayanan wisatawan dan arus pendapatan sementara.
”Bagaimanapun, pekerjaan revitalisasi destinasi sedikit banyak mengganggu performa pelayanan wisatawan.
Pelaksanaan paket pekerjaan selama beberapa bulan jelas memengaruhi pendapatan,” jelasnya.
Selain faktor pekerjaan fisik, tantangan sektor pariwisata ke depan juga dipengaruhi oleh faktor cuaca serta semakin ketatnya persaingan akibat bermunculannya destinasi-destinasi wisata baru di Trenggalek, termasuk dibukanya ruas Jalur Lintas Selatan (JLS) yang memberikan lebih banyak opsi bagi pelancong.
Kendati dihadapkan pada persaingan yang kian kompetitif—berbeda dengan era tahun 2016 saat Pantai Mutiara pertama kali dibuka dan belum banyak pesaing—kinerja pariwisata Trenggalek tahun ini tergolong moncer berkat dukungan cuaca yang bersahabat sepanjang tahun.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata, dari target PAD Rp9,2 miliar untuk tahun 2026, realisasi saat ini telah mencapai Rp6,2 miliar atau sekitar 68,59%.
Angka ini diklaim jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dengan sisa waktu yang ada, pihak Dinas Pariwisata optimis dapat terus menggenjot kunjungan agar target akhir tahun dapat tercapai sepenuhnya, sekaligus bersiap menyambut babak baru pariwisata Trenggalek lewat mega-revitalisasi pada 2027 mendatang.
Editor: Tatang. D


















