banner 728x250

Langkah Tanpa Alas Kaki Bupati Trenggalek dan Doa Petani di Hari Jadi ke-832

banner 120x600
banner 468x60

Foto: Boby / langkah “nyeker” para pimpinan daerah ini merupakan laku tirakat mendalam dimaknai sebagai upaya menyatu dengan watak bumi yang sabar.

banner 325x300

Ringkasan Berita:

  • Peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek pada Senin, 31 Agustus 2026, Bupati Mochamad Nur Arifin (Mas Ipin) bersama Forkopimda yang berjalan tanpa alas kaki mengiringi kirab tumpeng raksasa sebagai bentuk laku tirakat bertema “Hambeging Bumi”.
  • Prosesi ini juga dirangkai dengan sedekah tani oleh puluhan petani yang mengarak gerobak tradisional berisi hasil bumi untuk memohon segera turunnya hujan guna mengatasi ancaman kekeringan, yang dibarengi langkah nyata Pemkab Trenggalek membangun sumur-sumur dalam di berbagai sentra pertanian.

TRENGGALEK MAKNAJATIM – Trenggalek bergemuruh khidmat. Di tengah terik matahari yang menyengat bumi Menak Sopal, derap langkah tanpa alas kaki menggema di atas aspal.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin—yang akrab disapa Mas Ipin—bersama jajaran Forkopimda memilih menanggalkan sepatu mereka, berjalan bertelanjang kaki mengiringi kirab tumpeng raksasa pada puncak Peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek, Senin (31/8/2026).

​Bukan sekadar tradisi seremonial, langkah “nyeker” para pimpinan daerah ini merupakan laku tirakat mendalam.

Mengusung tema “Hambeging Bumi”, aksi tersebut dimaknai sebagai upaya menyatu dengan watak bumi yang sabar, memberi, dan menopang kehidupan.

Suasana semakin syahdu tatkala gema shalawat Mahalul Qiyam berkumandang di tengah prosesi, berpadu harmonis dengan momentum bulan suci Maulid Nabi Muhammad SAW.

​​Di barisan paling belakang, suasana magis sekaligus mengharukan tersaji lewat kehadiran Bergodo Tani.

Puluhan petani berbondong-bondong mengarak cikar—gerobak tradisional—yang sarat dengan hasil bumi segar seperti kacang panjang, terong, dan aneka sayuran lokal.

​Antusiasme para petani ini menyimpan pesan batin yang kuat. Di balik kemeriahan kirab, terselip asa dan doa agar kekeringan yang melanda lahan-lahan pertanian segera usai.

Mas Ipin mengungkapkan bahwa animo petani begitu tinggi untuk ikut bersedekah lewat bumi, berharap doa mereka dijawab dengan datangnya air yang menghidupkan kembali sawah-sawah yang mulai krisis.

​“Hampir semua petani ingin ikut, ingin terlibat, karena petani juga percaya ini bagian dari sedekahnya.

Di musim-musim seperti ini kritis sekali mereka membutuhkan air,” ungkap Mas Ipin di sela-sela prosesi.

​Sebagai langkah nyata mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Trenggalek saat ini tengah mengebut pembangunan sumur-sumur dalam di berbagai titik sentra tani.

Namun, ikhtiar teknis itu tetap dibarengi dengan pasrah total kepada Sang Pencipta melalui doa bersama agar hujan berkah segera turun membasahi bumi Trenggalek.

​Puncak Hari Jadi ke-832 ini tidak hanya menjadi refleksi kultural dan religius bagi warga Trenggalek, tetapi juga momentum kebersamaan antara pemimpin dan rakyatnya—berdiri sama tinggi, berpijak di bumi yang sama, merajut harapan baru untuk baldatun toyyibatun warobbun ghofur.

Editor: Tatang Dahono

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *