Foto:Prokopim / Bupati Indrata Nur Bayuaji saat memberikan sambutan peserta workshop produksi film di galeri seni Song Meri, Desa Sukoharjo.
Ringkasan Berita:
- Generasi muda Pacitan menunjukkan antusiasme tinggi mengikuti workshop produksi film di galeri seni Song Meri, Desa Sukoharjo, Rabu (2/9).
- Kegiatan ini merupakan pra-acara Festival Film Horor (FFH) hasil kolaborasi Ruang Film Pacitan dengan JAFF dan Jogja Film Academy (JFA).
PACITAN MAKNAJATIM – Industri sinematografi kini mulai menarik perhatian serius dari generasi muda Pacitan.
Antusiasme tinggi terlihat dari puluhan remaja yang memadati galeri seni Song Meri, Desa Sukoharjo, untuk mengikuti workshop produksi film, Rabu (2/9).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Ruang Film Pacitan ini berkolaborasi langsung dengan community forum JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) dan Jogja Film Academy (JAF) sebagai rangkaian pra-acara Festival Film Horor (FFH).
Ketua Ruang Film Pacitan, Idam Nugrahadi, menyampaikan bahwa workshop intensif ini menghadirkan para pemateri profesional langsung dari Jogja Film Academy.
Peserta diajak mendalami empat divisi utama pembuatan film melalui kelas khusus yang disediakan:
Kelas Penyutradaraan: Mempelajari cara menerjemahkan naskah menjadi bahasa visual yang utuh.
Kelas Sinematografi: Membedah teknik pengambilan gambar, pencahayaan, dan pengoperasian kamera.
Kelas Editing: Mengupas seni merangkai gambar dan suara pascaproduksi.
Kelas Keaktoran: Melatih ekspresi, pendalaman karakter, dan teknik dasar akting di depan layar.
”Banyak respons positif, terutama dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang sangat tertarik mendalami dunia perfilman,” ujar Idam mengenai tingginya animo peserta yang mengikuti kegiatan dua hari tersebut.
Dukungan penuh turut disuarakan oleh Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, yang hadir untuk membuka acara secara langsung.
Menurutnya, industri kreatif khususnya film memiliki potensi besar untuk ditekuni karena kreativitas tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Ia bahkan meminta dinas terkait untuk serius mendukung terbentuknya ekosistem ruang kreatif bagi insan film di Pacitan.
Sementara itu, Direktur Jogja Film Academy, Tri Wahyudi, mengungkapkan kebanggaannya atas langkah progresif yang diambil anak-anak muda Pacitan.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk membangun iklim perfilman yang sehat di daerah.
”Kami tidak akan jadi yang lebih tahu, tetapi kami yang sedikit lebih tahu untuk berbagi,” ungkap Tri Wahyudi, menyambut antusiasme peserta yang datang dari berbagai latar belakang usia.
Melalui ajang ini, talenta-talenta muda lokal diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi mulai berani memproduksi karya sinema berkualitas dari tanah Pacitan.
Editor: Tatang.D


















