Foto: Prokopim / Meriah, Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, meninjau langsung latihan dan memberikan motivasi.
Ringkasan Berita:
- SMAN 3 Ponorogo konsisten menjadi wadah regenerasi seniman muda Reog Ponorogo melalui kegiatan ekstrakurikuler dan rutin berpartisipasi dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP).
- Tahun ini, SMAN 3 Ponorogo berkolaborasi dengan Tim Aktivis Karawitan dan Tari dari Universitas Brawijaya (UB) dan ISI Surakarta untuk mengadakan karantina dan latihan intensif.
- Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, meninjau langsung latihan tersebut dan memberikan motivasi, mengingatkan bahwa Reog telah diakui UNESCO dan bisa menjadi jalur prestasi masa depan.
- Universitas Brawijaya memberikan dukungan konkret berupa “karpet merah” atau rekomendasi khusus pendaftaran kuliah bagi siswa SMAN 3 Ponorogo yang berprestasi dan konsisten di bidang seni reog.
PONOROGO MAKNAJATIM– Geliat pelestarian budaya adiluhung di Bumi Reog benar-benar membakar semangat generasi muda!
Bukti nyata bahwa regenerasi seniman Reog Ponorogo tidak akan pernah mati terpancar jelas dari SMAN 3 Ponorogo.
Tidak tanggung-tanggung, lewat ekstrakurikuler reog yang konsisten digawangi, sekolah ini sukses menjadi “pabrik” seniman muda berbakat yang tak pernah absen memukau panggung Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) setiap tahunnya.
Tahun ini, SMAN 3 Ponorogo membuat gebrakan luar biasa. Demi melahirkan performa yang magis dan memukau, mereka resmi berkolaborasi dengan Tim Aktivis Karawitan dan Tari dari dua kampus seni legendaris: Universitas Brawijaya (UB) dan ISI Surakarta!
Suasana sekolah pun disulap menjadi camp karantina yang penuh totalitas. Dengan latihan rutin yang intensif, para siswa digembleng untuk menyatukan rasa, gerak, dan irama.
Kemeriahan dan energi positif di tempat latihan memuncak saat Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, hadir langsung untuk meninjau proses pembinaan pada Kamis (28/5).
Melihat keringat dan tawa semangat para siswa yang tak kenal lelah menyerasikan wiraga, wirasa, dan wirama, Bunda Lisdyarita mengaku sangat bangga dan terkesima.
Dalam arahannya yang membakar semangat, Bunda Lisdyarita berpesan agar para siswa memanfaatkan momentum emas ini dengan fokus dan tekun. Apalagi, Reog kini telah resmi diakui dunia melalui UNESCO.
”Reog sudah masuk UNESCO, jadi latihannya harus tekun lagi dan lebih fokus.
Jika kalian punya bakat dalam Reog, pasti kalian punya bekal untuk masa depan.
Kalian bisa masuk PTN jalur prestasi, bahkan bisa keliling dunia mewakili Indonesia!” seru Bunda Lisdyarita disambut tepuk tangan riuh para siswa.
Kabar gembira tidak berhenti sampai di situ! Dukungan konkret bagi masa depan para seniman muda ini disampaikan langsung oleh Denny Widhiyanuriyawan, Pembina Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya.
Sebagai wujud kerja sama antara UB dan Pemkab Ponorogo, pihak kampus siap memberikan “karpet merah” bagi siswa-siswi SMAN 3 Ponorogo yang berprestasi di bidang reog.
Rekomendasi khusus siswa yang konsisten dan bertalenta emas akan mendapatkan rekomendasi resmi untuk mendaftar di Universitas Brawijaya.
UB berkomitmen penuh menjadi wadah lanjutan bagi para pemuda Ponorogo untuk terus melestarikan budaya di jenjang perguruan tinggi.
”Kami memiliki tanggung jawab sebagai pelestari budaya. Sehingga Universitas Brawijaya juga perlu stok talenta-talenta muda dari Ponorogo melalui prestasi reog.
Siapapun yang punya konsistensi dan prestasi bisa diberi rekomendasi untuk mendaftar di Universitas Brawijaya,” tegas Denny mantap.
Dengan kolaborasi epik antara sekolah, pemerintah daerah, dan universitas ternama ini, masa depan Reog Ponorogo dipastikan aman di tangan generasi muda.
SMAN 3 Ponorogo telah membuktikan bahwa mencintai budaya lokal bukan sekadar hobi, melainkan jembatan emas menuju prestasi dunia! Viva Reog Ponorogo!
Editor: Tatang Dahono


















