banner 728x250

Metri Bumi Trenggalek: Merawat Alam Merawat Syukur

banner 120x600
banner 468x60

Foto: Prokopim / Kemarau Panjang Tak Surutkan Air Sumber Gedong, Mas Ipin Ajak Warga Rawat Alam Lewat Tradisi Metri Bumi

banner 325x300

Ringkasan Berita:

  • Mata air Sumber Gedong di Desa/Kecamatan Gandusari, Trenggalek, tetap mengalir deras di tengah kemarau panjang berkat kelestarian pohon-pohon purba di sekitarnya.
  • ​Ratusan pohon tua di Komplek Makam Punden Sari menjaga kestabilan pasokan air Sumber Gedong, sehingga petani setempat tetap bisa menanam padi saat kemarau.
  • ​Menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Trenggalek untuk menekankan pentingnya hidup berdampingan dengan alam melalui pendekatan budaya.

TRENGGALEK MAKNAJATIM – Di tengah ancaman musim kemarau panjang, keharmonisan antara manusia dan alam terpancar nyata di Desa Gandusari, Kecamatan Gandusari, Trenggalek.

Saat wilayah lain mulai kesulitan air, para petani di sekitar mata air Sumber Gedong justru masih bisa menanam padi dengan tenang.

Debit air dari mata air legendaris ini tetap mengalir deras, menopang kehidupan dan sawah-sawah warga setempat.

​Fenomena ini bukan tanpa sebab. Kelestarian vegetasi di sekitar Komplek Makam Punden Sari, lokasi di mana Sumber Gedong berada, masih terjaga rapat dengan hadirnya pepohonan purba berusia ratusan tahun.

​Momen keberkahan ini disaksikan langsung oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin (Mas Ipin), saat memimpin kegiatan adat Metri Bumi, Rabu (26/8).

​”Ini pesan, selama kita masih bisa melestarikan seperti ini, alam dengan izin Tuhan bisa memberikan kebaikan untuk kita.

Baik itu berupa panen atau yang lain-lain,” ungkap Mas Ipin di sela ritual adat.

​Pesan Konservasi di Balik Tradisi
​Upacara adat Metri Bumi yang digagas langsung oleh Bupati yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua APKASI ini menekankan esensi penting: hidup berdampingan dan menjaga alam.

​Mas Ipin menegaskan bahwa mendatangi sumber air dalam tradisi ini bukanlah tindakan yang menyimpang dari nilai agama, melainkan wujud syukur dan langkah nyata konservasi lingkungan.

Dalam prosesi tersebut, Mas Ipin menyelimuti pohon-pohon besar dengan kain batik—sebuah simbol penghormatan agar masyarakat segan dan enggan merusak pohon-pohon penopang air tersebut.

​Tak hanya merawat pohon tua yang sudah ada, kepala daerah muda ini turut memperkuat daya serap air di area Sumber Gedong melalui langkah konkret:

​Menambah vegetasi hijau dengan menanam bibit pohon beringin di sekitar area mata air.

​Menjadikan ritual Metri Bumi sebagai rangkaian prioritas peringatan Hari Jadi Kabupaten Trenggalek.

​Membuktikan secara langsung kepada masyarakat bahwa keberadaan hutan yang lestari berbanding lurus dengan ketahanan pangan desa.

​”Banyak pohon yang usianya ratusan tahun. Makanya begitu kita masuk, masih ada sawah-sawah yang meskipun kemarau tetap bisa ditanami padi karena sumber airnya masih sangat bagus,” tutup Mas Ipin.

​Lewat Metri Bumi, Trenggalek membuktikan bahwa tradisi lokal dan semangat konservasi modern mampu menjadi kunci utama dalam menghadapi perubahan iklim global.

Editor: Tatang Dahono

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *