Hari Jadi Trenggalek ke-832: Dari Kirab Bibit, Udik-udik 11 Ribu, hingga Wayang Semalam Suntuk
Foto: Prokopim / Hari jadi dibuka untuk umum
Ringkasan Berita:
- Petani lokal dilibatkan langsung menjadi bagian dari pasukan prajurit tradisional sebagai bentuk apresiasi atas dukungan terhadap Swasembada Pangan Nasional.
- Masyarakat disuguhkan puluhan tumpeng gratis untuk dinikmati bersama Bregodo Tani di area acara.
- Bupati dan Wakil Bupati membagikan bibit pohon gratis serta 11 ribu kantong udik-udik sepanjang rute menuju Pendopo sebagai simbol doa memohon keberkahan (kawelasan).
- Dimeriahkan dengan Seni Tiban (doa meminta hujan), lomba panjat pinang, dan ditutup pertunjukan wayang kulit semalam suntuk lakon Wahyu Makutho Rama oleh Ki Purbo Asmoro.
TRENGGALEK MAKNAJATIM – Peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek tahun 2026 dipastikan berlangsung beda dan jauh lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek berkomitmen meruntuhkan sekat antara pejabat dan warga dengan menggelar pesta rakyat yang seratus persen terbuka untuk umum.
Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin (Mas Ipin), usai menjalani prosesi adat Jamas Prasasti Kamulan pada Sabtu (29/8/2026).
Monggo nanti silakan menyesuaikan diri. Duduk nanti bareng bersama Bregodo-Bregodo yang ada. Lenggah di sini, bisa nderek menikmati suguhan yang ada,” ujar Mas Ipin.
Sebagai bentuk penghormatan atas peran vital petani dalam mendukung keberhasilan Swasembada Pangan Nasional—sejalan dengan arahan Presiden Prabowo—para petani lokal diterjunkan langsung menjadi bagian utama pasukan prajurit tradisional (Bregodo).
Warga yang hadir dapat duduk bersanding dengan Bregodo Tani untuk menikmati puluhan tumpeng yang telah disiapkan secara gratis oleh Pemkab Trenggalek.
Sepanjang rute kirab menuju Pendopo, Mas Ipin bersama Wakil Bupati akan membagikan bibit pohon gratis serta 11 ribu kantong udik-udik (uang koin/hadiah) kepada warga di tepi jalan.
Angka 11 ribu ini disimbolkan sebagai doa memohon kawelasan (welas asih) dan perlindungan Gusti Allah melalui para malaikat-Nya.
Untuk menyemarakkan suasana menjelang malam puncak, dipagelarkan Tarian Tiban (ritual seni meminta hujan) sebagai ujub doa agar ketersediaan air dan hasil pertanian warga melimpah, diselingi keseruan lomba panjat pinang.
Kemeriahan ditutup dengan pertunjukan wayang kulit legendaris membawakan lakon Wahyu Makutho Rama yang dibawakan oleh dalang kondang Ki Purbo .
Editor: Tatang Dahono


















