banner 728x250

Perkuat Konservasi Penyu Trenggalek Luncurkan Living Life Laboratory

banner 120x600
banner 468x60

Foto: Prokopim / Langkah Nyata Melawan Pemanasan Global, Trenggalek dan UB Resmikan Living Life Laboratory di Pantai Kili-Kili

Ringkasan Berita:

banner 325x300
  • Fungsi fasilitas, pusat studi alam terbuka untuk meriset konservasi penyu hijau, mikrobiologi laut, dan flora pesisir.
  • ​Sinergi 3 sektor, menggabungkan riset akademis UB, pendanaan CSR industri berbasis ESG, serta regulasi Pemkab Trenggalek (Kawasan Ekosistem Esensial).
  • ​Tujuan utama, menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir melalui kearifan lokal sekaligus wujud Global Citizenship untuk meredam pemanasan global, diakhiri dengan pelepasan tukik (anak penyu) ke laut lepas.

​TRENGGALEK MAKNAJATIM — Komitmen menjaga kelestarian ekosistem pesisir selatan Jawa Timur memasuki babak baru.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, bersama Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, resmi meresmikan Living Life Laboratory di Pantai Konservasi Penyu Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Jumat (20/8/2026).

​Fasilitas ini bukan sekadar laboratorium biasa, melainkan pusat studi alam terbuka untuk meneliti keanekaragaman hayati pesisir—mulai dari konservasi penyu hijau yang terancam punah, mikrobiologi laut, hingga flora khas pesisir.

​standard peresmian yang biasanya mengawali sebuah proyek, kerja sama antara Pemkab Trenggalek, UB, dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) lokal ini justru meresmikan aksi nyata yang sudah berdenyut puluhan tahun.

​”Ini hanya merekogisi apa yang sudah berjalan puluhan tahun. Biasanya peresmian dilakukan di awal baru ada kegiatan, tapi kalau ini kegiatannya sudah lama baru diresmikan.

Living Life artinya harus hidup terus-menerus, tidak hanya hari ini saja,” ujar Bupati yang akrab disapa Mas Ipin tersebut.

​Kerja sama strategis ini memadukan kekuatan tiga sektor penting demi mewujudkan pembangunan berkelanjutan:

​Sains dan Data, Didukung riset mendalam serta pendampingan akademisi UB sejak dekade lalu.

​Dukungan Industri, Memanfaatkan pendanaan CSR berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

​Regulasi Daerah, Penguatan payung hukum Pemkab Trenggalek, mengingat kawasan Kili-Kili telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE).

​Rektor UB, Prof. Widodo, menegaskan bahwa keberadaan laboratorium ini merupakan bentuk kontribusi lokal untuk isu global.

“Tujuannya bukan hanya pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendukung warga Trenggalek yang peduli alam.

Ini kearifan lokal sekaligus wujud Global Citizenship untuk meredam global warming,” ungkapnya.

​Acara diakhiri dengan aksi simbolis pelepasan tukik (anak penyu) ke laut lepas.

Penyu dikenal memiliki navigasi alami luar biasa; mereka akan kembali bertelur di pantai tempat pertama kali mereka dilepaskan—sebuah simbol keberlanjutan bagi ekosistem Panggul di masa depan.

Editor: Tatang Dahono

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *