Foto: Prokopim / Pagelaran wayang kulit dibuka secara resmi oleh Plt Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, ditandai dengan prosesi penyerahan tokoh wayang kepada sang dalang.
Ringkasan Berita:
- Peringatan Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo diwarnai dengan pagelaran wayang kulit lakon “Wahyu Mulyo Sejati” oleh Ki Marsudi Bowo Leksono di Alun-alun Utara, Selasa malam (11/8).
- Plt Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, membuka acara yang sarat akan refleksi spiritual ini untuk menyampaikan bahwa kemuliaan hidup dan kepemimpinan sejati bersumber dari ketulusan, pengorbanan, serta pengabdian tanpa pamrih untuk rakyat, bukan dari harta atau kekuasaan.
PONOROGO MAKNAJATIM — Perayaan Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo tahun ini terasa begitu istimewa dan sarat makna.
Tidak sekadar menjadi ajang perayaan sejarah Bumi Reog, rangkaian acara bertransformasi menjadi ruang refleksi spiritual dan kultural yang mendalam bagi masyarakat.
Puncak kemeriahan budaya tersebut terpancar melalui pagelaran wayang kulit spektakuler yang membawakan lakon “Wahyu Mulyo Sejati”.
Bertempat di Blok M, Jalan Alun-alun Utara, pertunjukan yang dipimpin oleh dalang kondang Ki Marsudi Bowo Leksono pada Selasa malam (11/8) sukses memukau ribuan pasang mata.
Pertunjukan sakral ini dibuka secara resmi oleh Plt Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, yang ditandai dengan prosesi penyerahan tokoh wayang kepada sang dalang.
Melalui alur cerita pewayangan yang epik, penonton diajak menyelami filosofi mendalam mengenai hakikat kemuliaan hidup serta cerminan ideal seorang pemimpin dalam mengemban amanah rakyat.
“Wahyu atau anugerah kemuliaan tidak dapat diraih dengan paksaan, kekuatan senjata, kekuasaan, maupun kekayaan semata.”
Pesan utama dari lakon ini menegaskan bahwa kemuliaan sejati hanya akan bersemayam pada individu yang memiliki:
Hati yang bersih dari niat buruk.
Sikap rela berkorban demi kepentingan rakyat banyak.
Kemampuan menaklukkan ego pribadi demi kebaikan bersama.
Artinya, kemuliaan hidup bukanlah produk dari jabatan tinggi atau harta melimpah, melainkan buah manis dari ketulusan dan pengabdian tanpa pamrih.
Pemimpin sejati dipotret bukan sebagai penguasa yang dilayani, melainkan sosok yang hadir untuk melayani, melindungi, dan memperjuangkan kesejahteraan warganya.
Di sela-sela acara, Bunda Lisdyarita menyampaikan harapannya agar nilai-nilai luhur dan pitutur yang terkandung dalam cerita pewayangan ini dapat diresapi oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ia ingin pesan leluhur tersebut menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari maupun dalam menjalankan amanah sesuai peran masing-masing.
“Semoga kita sedaya bisa mengikuti nasehat dari leluhur kita yang disampaikan melalui cerita wayang kulit yang dibawakan Ki Marsudi,” ujar Bunda Lisdyarita penuh hangat.
Melalui pagelaran wayang kulit ini, Kabupaten Ponorogo kembali membuktikan bahwa seni tradisional bukan hanya tontonan yang memukau, melainkan juga tuntunan hidup yang senantiasa relevan menembus batas zaman.
Editor: Tatang Dahono


















