Foto: Dok : Maknajatim / Murkam Wakil Ketua Komisi II DPRD Trenggalek saat wawancara dengan awak media
Ringkasan Berita:
- Dilem Wilis Dikritik Komisi II DPRD Trenggalek karena masih “dari nol” dan minim persiapan di lapangan.
- PDAM mendapat apresiasi positif, karena pendapatan naik dan sukses memproduksi AMDK yang permintaannya membludak.
TRENGGALEK MAKNAJATIM — Langkah tegas ditunjukkan oleh jajaran Komisi II DPRD Kabupaten Trenggalek saat menggelar inspeksi mendadak (sidak) dan kunjungan kerja pengawasan terhadap mitra kerja mereka.
Dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Komisi II, Murkam, agenda pengawasan ini menyoroti dua kutub yang kontras: tantangan berat dalam optimalisasi megaproyek Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan ( Dispertan ) wisata Dilem Wilis, serta kabar menggembirakan dari lonjakan bisnis Perumda Tirto Wening (PDAM).
Sorotan utama sidak diarahkan pada kawasan wisata dan agrowisata Dilem Wilis.
Berdasarkan pembahasan di tingkat Komisi maupun Badan Anggaran (Banggar), alokasi dana masif sekitar Rp3.8 miliar digelontorkan dari pinjaman PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).
Dana sebesar itu diserap demi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui berbagai pembangunan fisik, di antaranya:
- Pembangunan gudang kopi dan pabrik pengolahan susu.
- Rehabilitasi dan perluasan kafe Dilem Wilis agar bisa difungsikan sebagai ruang rapat representatif.
- Penguatan daya tarik wisata alam dan produk unggulan lokal.
Namun, di balik ambisi besar tersebut, Murkam tak bisa menyembunyikan rasa kritisnya.
Saat turun langsung ke lapangan, Komisi II mendapati kondisi fisik yang benar-benar masih dari nol.
Tantangan di lapangan pun tergolong berat:
- Kebun cengkeh di lokasi dilaporkan banyak yang mati.
- Pasokan bahan baku kopi masih minim, sehingga membutuhkan strategi penanaman ulang (replanting) secara masif.
- Belum ada kejelasan gambaran konservasi lahan, baik untuk tahun berjalan maupun tahun depan.
”Kami ingin memastikan anggaran bersumber dari pinjaman sebesar itu benar-benar mendatangkan output dan outcome yang jelas.
Harapannya, dari hitungan target tertentu, dananya bisa kembali untuk membayar pinjaman, sekaligus meninggalkan sarana prasarana yang layak jual dan produktif di masa depan,” tegas Murkam.
Sebagai catatan, pendapatan riil dari kawasan Dilem Wilis dalam beberapa tahun terakhir tercatat berada di angka hampir Rp300 juta.
Komisi II pun mendesak Dinas Pertanian agar merencanakan dan mengeksekusi program ini secara profesional, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif tahunan.
Berbeda dengan tantangan di Dilem Wilis, apresiasi tinggi justru diberikan Komisi II kepada Perumda Tirto Wening (PDAM Trenggalek) atas progres bisnis yang dinilai luar biasa.
Dari sisi pendapatan, perluasan jaringan, hingga inovasi produk, PDAM menunjukkan tren positif yang signifikan.
Salah satu gebrakan terbesarnya adalah suksesnya produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang kini justru menghadapi kendala “positif”: kekurangan stok akibat tingginya permintaan pasar.
Melihat potensi besar ini, ke depannya manajemen AMDK akan dipisahkan ke dalam satu unit khusus agar bisa dikelola secara mandiri dan profesional demi memenuhi kebutuhan air minum warga Trenggalek secara luas.
Target pendapatan yang semula dipatok di angka Rp225 juta pada tahun ini.
Dalam rapat pembahasan, Komisi II meminta target tersebut dinaikkan menjadi Rp250 juta menyusul tren performa keuangan yang terus merangkak naik.
Rangkaian pengawasan ini membuktikan komitmen DPRD Trenggalek dalam mengawal uang rakyat — memastikan investasi utang daerah berbuah manis bagi kemandirian ekonomi, sekaligus mendorong BUMD agar terus berekspansi secara progresif.
Editor:Tatang.D


















