banner 728x250

Dilem Wilis Masih “Nol”, DPRD Trenggalek Puji Lonjakan Bisnis PDAM

banner 120x600
banner 468x60

Foto: Maknajatim / Murkam Wakil Ketua Komisi II saat sidak di PDAM

Ringkasan Berita:

banner 325x300
  • Sidak Komisi II DPRD Trenggalek menyoroti dua kontras, proyek wisata Dilem Wilis (Dispertan) yang butuh perbaikan serius meski dibiayai pinjaman Rp3,8 miliar, serta lonjakan bisnis PDAM yang sukses besar pada produk AMDK hingga target pendapatannya dinaikkan menjadi Rp250 juta.

​TRENGGALEK MAKNAJATIM — Jajaran Komisi II DPRD Kabupaten Trenggalek menunjukkan langkah tegas dalam menjalankan fungsi pengawasan.

Melalui agenda inspeksi mendadak (sidak) dan kunjungan kerja mitra kerja, dewan menyoroti dua kondisi yang kontras: tantangan berat dalam optimalisasi proyek wisata Dilem Wilis, serta lonjakan bisnis yang menggembirakan dari Perumda Tirto Wening (PDAM).

​Agenda pengawasan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Komisi II DPRD Trenggalek, Murkam.

​Proyek Dilem Wilis Disorot: Utang Daerah Rp3,8 Miliar Dituntut Beri Output Jelas.

​Sorotan tajam pertama diarahkan pada kawasan agrowisata Dilem Wilis di bawah naungan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan).

Berdasarkan pembahasan di tingkat Komisi dan Badan Anggaran (Banggar), alokasi dana masif sekitar Rp3,8 miliar telah digelontorkan dari pinjaman PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).

​Dana tersebut diserap untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui berbagai pembangunan fisik, di antaranya:

  • ​Pembangunan gudang kopi dan pabrik pengolahan susu.
  • ​Rehabilitasi dan perluasan kafe Dilem Wilis menjadi ruang rapat yang representatif.
  • ​Penguatan daya tarik wisata alam dan produk unggulan lokal.

​Namun, di balik ambisi besar tersebut, Komisi II mendapati kondisi fisik di lapangan masih memprihatinkan dan banyak yang harus dimulai dari nol.

Tantangan operasional yang dihadapi tergolong berat:

  • Mulai dari matinya banyak pohon cengkeh.
  • Minimnya pasokan bahan baku kopi yang memerlukan replanting (penanaman ulang) secara masif.
  • Hingga belum jelasnya gambaran konservasi lahan untuk tahun berjalan maupun tahun depan.

​“Kami ingin memastikan anggaran bersumber dari pinjaman sebesar itu benar-benar mendatangkan output dan outcome yang jelas.

Harapannya, dari hitungan target tertentu, dananya bisa kembali untuk membayar pinjaman, sekaligus meninggalkan sarana prasarana yang layak jual dan produktif di masa depan,” tegas Murkam saat turun ke lapangan.

​Sebagai catatan, pendapatan riil dari kawasan Dilem Wilis dalam beberapa tahun terakhir tercatat masih berada di kisaran angka hampir Rp300 juta.

Komisi II lantas mendesak Dinas Pertanian agar merencanakan dan mengeksekusi program secara profesional, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif tahunan.

​Berbeda dengan tantangan di sektor agrowisata, apresiasi tinggi justru diberikan Komisi II kepada Perumda Tirto Wening (PDAM Trenggalek) atas progres bisnis yang dinilai luar biasa

​Dari sisi pendapatan, perluasan jaringan, hingga inovasi produk, PDAM menunjukkan tren positif yang signifikan.

Salah satu gebrakan terbesarnya adalah suksesnya produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang kini justru menghadapi kendala “positif”: kekurangan stok akibat tingginya permintaan pasar.

​Melihat potensi besar ini, manajemen ke depannya berencana memisahkan unit AMDK ke dalam satu divisi khusus agar dikelola secara mandiri dan profesional demi melayani kebutuhan masyarakat Trenggalek secara lebih luas.

​Menanggapi tren performa keuangan yang terus merangkak naik, Komisi II bahkan meminta target pendapatan BUMD tersebut dinaikkan dari Rp225 juta menjadi Rp250 juta pada tahun ini.

​Rangkaian pengawasan ini membuktikan komitmen nyata DPRD Trenggalek dalam mengawal uang rakyat — memastikan investasi utang daerah berbuah manis bagi kemandirian ekonomi, sekaligus mendorong BUMD agar terus berekspansi secara progresif dan akuntabel.

​Editor: Tatang.D

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *