banner 728x250

Lawan Kekeringan, Trenggalek Luncurkan Teknologi Pengolah Uap Jadi Air

banner 120x600
banner 468x60

Foto: Prokopim / Bupati Moch Nur Arifin perkenalkan inovasi teknologi sederhana berbasis kondensasi

​TRENGGALEK MAKNAJATIM – Pemerintah Kabupaten Trenggalek resmi memperkenalkan inovasi teknologi sederhana berbasis kondensasi sebagai solusi strategis menghadapi ancaman kekeringan ekstrem tahun 2026. Alat pengolah uap dingin menjadi air bersih ini diharapkan mampu menjadi jawaban bagi desa-desa yang selama ini menjadi langganan krisis air bersih.

​Inovasi tersebut diperkenalkan langsung oleh Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, saat melakukan kunjungan kerja di SDN 2 Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Rabu (22/4/2026). Dalam penjelasannya, Bupati yang akrab disapa Mas Ipin ini menekankan bahwa ketersediaan air adalah variabel kunci dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

banner 325x300

​”Kalau kita berbicara masalah pangan, salah satu komponen besar yang menentukan adalah ketersediaan air. Sementara itu, siklus air alami saat ini sudah tereduksi akibat berkurangnya kawasan hutan dan rusaknya tampungan air bawah tanah di kawasan kars,” ujar Bupati Nur Arifin.

​Selama ini, pola penanganan kekeringan di Trenggalek sangat bergantung pada distribusi air bersih melalui tangki BPBD. Namun, dengan jumlah desa terdampak mencapai 92 hingga 100 desa berdasarkan data BMKG, sistem distribusi konvensional seringkali kewalahan.

​Teknologi kondensasi ini merupakan hasil kolaborasi apik antara Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek bersama para inovator lokal. Mekanisme kerja alat ini cukup sederhana namun efektif: menangkap uap dingin di udara, kemudian melalui proses pendinginan (kondensasi), uap tersebut diubah menjadi titik-titik air yang layak digunakan.

​Pemerintah daerah juga menegaskan komitmennya dalam efisiensi anggaran. Pemkab Trenggalek mulai mengalihkan belanja yang bersifat konsumtif menjadi investasi teknologi yang berkelanjutan.

​”BPBD sering kewalahan karena harus bolak-balik setiap hari mengirim air. Dengan teknologi ini, harapannya masyarakat bisa memproduksi air sendiri secara mandiri di lingkungannya masing-masing,” tambah Mas Ipin

​Meski saat ini sistem operasional alat masih bergantung pada daya listrik, Pemkab Trenggalek sudah menyiapkan peta jalan pengembangan jangka panjang. Rencananya, kapasitas alat akan ditingkatkan dan diintegrasikan dengan Panel Surya (Solar Cell).

​Langkah penggunaan energi surya ini diambil untuk:

​Menekan biaya operasional agar tidak membebani masyarakat desa.

​Menjaga ramah lingkungan selaras dengan semangat pembangunan hijau di Trenggalek.

​Mempermudah implementasi di daerah pelosok yang sulit dijangkau jaringan listrik stabil.

​Inovasi ini menjadi angin segar sekaligus bukti nyata bahwa pemanfaatan teknologi tepat guna yang adaptif terhadap perubahan iklim dapat menjadi solusi konkret bagi permasalahan menahun di tingkat operasional.

Editor: Tatang Dahono

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *