Foto: Istimewa
TRENGGALEK MAKNAJATIM– Ketika riuh kemenangan Idulfitri mulai meluruh menjadi ketenangan, masyarakat di ceruk hijau Kecamatan Durenan, Trenggalek, justru tengah bersiap menyambut puncak dari segala rindu.
Seminggu pasca-1 Syawal, aroma janur kelapa yang direbus menyelinap di antara sela-sela rumah warga, menandai kembalinya sebuah tradisi agung yang telah melintasi zaman: Lebaran Ketupat.
Lebih dari sekadar santapan, sebutir ketupat di Durenan adalah kitab kehidupan yang tak tertulis.
Secara etimologis, ia adalah gema dari Ngaku Lepat—sebuah keberanian untuk mengakui noda di dalam jiwa—dan Laku Papat, yang mencerminkan empat pilar spiritualitas manusia setelah menempuh madrasah Ramadan.
Rajutan janur yang rumit melambangkan carut-marut kesalahan manusia, namun isi di dalamnya—putihnya nasi yang memadat—adalah simbol kembalinya kesucian hati yang telah dibasuh oleh maaf.
Di bawah langit Durenan yang ramah, tradisi ini mekar dalam wujud kebersamaan yang hangat.
Berikut adalah denyut nadi perayaan yang senantiasa terjaga:
Sajian Penuh Berkah: Di tiap sudut dusun, kepulan uap dari kenduri menghadirkan harmoni. Ketupat dan lepet bersanding dengan aneka lauk, disantap bersama di atas hamparan tikar masjid sebagai wujud syukur yang meluap.
Arak-arakan Budaya: Tradisi ini kian semarak dengan hadirnya arak-arakan tumpeng ketupat yang menjulang. Gemeretak langkah Jaranan dan gagahnya Reog Mini seolah menjadi pengawal setia bagi warisan leluhur agar tetap gagah menantang zaman.
Magnet Kerinduan: Bagi para perantau, kupatan bukan sekadar tanggal di kalender; ia adalah magnet yang menarik mereka pulang untuk mencuci wajah dengan senyum tetangga dan sanak saudara.
”Tradisi kupatan bukanlah sekadar seremoni mengunyah ketupat, melainkan sebuah jeda untuk berefleksi: bahwa sekeras apa pun hati manusia, ia akan melunak dalam kuah santan persaudaraan dan ketulusan memaafkan.”
Meski deru modernitas kian kencang, masyarakat Durenan tetap teguh memegang pundak satu sama lain.
Melalui semangat gotong royong yang digerakkan oleh para pemuda dan tetua adat, api tradisi ini dipastikan tidak akan padam.
Kupatan adalah wujud nyata dari kearifan lokal yang mengajarkan bahwa untuk melangkah ke depan, manusia harus berani mengakui kesalahan di masa lalu.
Kupatan di Durenan adalah sebuah bukti, bahwa di tengah dunia yang kian individualis, kebersamaan adalah harta paling sakral yang patut kita wariskan kepada generasi setelah kita.
Editor : Tatang Dahono


















