Foto : Boby / Pembina Pamengku Adat Trenggalek Tomi Sudarso bersama Ketua PLT ( Pelaksana Tugas Harian) Damiran
TRENGGALEK MAKNAJATIM – Di tengah riuh rendah kabar pengunduran diri Sunari dari kursi kepemimpinan Pamengku Adat Trenggalek yang belum genap setahun menjabat, sebuah langkah berani diambil demi menyelamatkan marwah organisasi.
Pembina Pamengku Adat, Pratomo Hadi (Tomi Sudarso), bergerak cepat mengambil kendali untuk memastikan gerbong pelestari budaya ini tidak kehilangan arah.
Langkah taktis ini diambil Tomi Sudarso bukan tanpa alasan. Baginya, pucuk pimpinan adalah jantung organisasi yang tidak boleh berhenti berdenyut barang sedetik pun.
”Demi menjaga marwah dan keberlangsungan Pamengku Adat, saya mengambil tindakan tegas.
Tidak boleh ada kekosongan kepemimpinan,” ujar Tomi Sudarso dengan nada penuh wibawa.
Melalui keputusan resmi, Tomi menunjuk Damiran sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Ketua Pamengku Adat Trenggalek untuk masa bakti enam bulan ke depan, terhitung sejak 3 Maret hingga 3 Agustus 2026.
Tomi menegaskan bahwa amanah ini bukan sekadar jabatan administratif, melainkan sebuah pengabdian spiritual kepada tanah kelahiran.
Langkah ini menurut Tomi menjaga alam semesta dan melestarikan situs-situs suci dari tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Jujur saja, ini semua bukan untuk kita, tetapi untuk leluhur dan budaya Trenggalek,” tegasnya.
Pasca penunjukan PLT Ketua dan jajaran pengurus dijadwalkan segera berkoordinasi serta bersurat kepada Bupati dan Ketua DPRD Trenggalek.
Langkah ini merupakan bentuk sinergi dengan pemerintah daerah yang selama ini dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap denyut nadi kebudayaan di Bumi Menak Sopal.
Menerima tongkat estafet tersebut, Damiran menyatakan kesiapannya untuk merangkul seluruh teman-teman sejawat di tiap kecamatan.
Namun, ada satu misi personal yang sangat heroik: Melawan kepunahan.
Sebagai pemilik grup Ketoprak Manggolo Budoyo, Damiran bertekad menghidupkan kembali kesenian ketoprak yang kini nyaris tergerus zaman.
Mengawali masa jabatan dengan menampilkan kembali kesenian-kesenian lokal.
Komitmen saya melestarikan budaya semaksimal mungkin sebagai benteng pertahanan identitas Trenggalek di tengah gempuran modernisasi.
”Insyaallah, saya akan menjaga kelestarian budaya Trenggalek. Ketoprak dan kesenian lainnya harus tetap tegak berdiri, tidak boleh punah oleh zaman,” pungkas Damiran dengan penuh optimisme.
Editor : Tatang Dahono


















