banner 728x250

Revolusi Agraris dari Kelas: Cara Trenggalek Putus Rantai Ketergantungan Pangan

banner 120x600
banner 468x60

​Foto: Prokopim / Bupati Nur Arifin distribusikan bibit dan pupuk di sejumlah sekolah di Kecamatan Gandusari

​TRENGGALEK MAKNAJATIM – Pemerintah Kabupaten Trenggalek mulai menggeser paradigma ketahanan pangan dengan menyasar generasi muda.

banner 325x300

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin (Mas Ipin), menegaskan dukungannya terhadap Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah sebagai langkah strategis memutus ketergantungan pangan dari luar daerah sejak dini.

​Dukungan tersebut disampaikan Mas Ipin saat mendampingi Yayasan Swatantra Pangan Nusantara dalam pendistribusian bibit dan pupuk di sejumlah sekolah di Kecamatan Gandusari, Rabu (22/4/2026).

​Bupati menekankan bahwa program ini bukan sekadar kurikulum tambahan, melainkan upaya merevolusi cara pandang siswa terhadap sektor agraris. Menurutnya, selama ini ada stigma keliru yang memposisikan profesi petani sebagai pilihan terakhir.

​”Kita sudah terlalu jauh meninggalkan identitas agraris. Dulu kita sering membekali anak-anak agar sekolah pintar supaya tidak jadi petani.

Sekarang kita balik: pangan adalah masa depan dan harga diri bangsa. Kita ingin semangat mandiri ini menular sejak dini agar tidak ada lagi pemikiran bahwa pangan bisa terus-menerus disuplai negara lain,” tegas Mas Ipin.

​Melalui program ini, siswa dilatih menanam sayuran hortikultura menggunakan media polibag serta menerapkan praktik pertanian organik di lahan sekolah.

​Mas Ipin menginginkan inisiatif ini bertransformasi menjadi sebuah gerakan, bukan sekadar program administratif.

Fokusnya pun tidak terbatas pada tanaman, tetapi juga menyasar kedaulatan protein melalui pengelolaan kolam ikan skala sekolah.

​”Gerakan akan jauh lebih masif daripada sekadar program. Kami menggerakkan semua stakeholder agar inspirasi ini sampai ke anak-anak.

Mereka harus merasakan sendiri proses menanam, merawat, hingga mengonsumsi hasil keringat mereka,” tambahnya.

​Menyadari bahwa swasembada pangan bergantung pada ketersediaan air, Bupati Trenggalek juga memperkenalkan inovasi teknologi kondensasi sederhana untuk menjawab tantangan kekeringan ekstrem yang diprediksi BMKG tahun ini.

​Inovasi yang dikembangkan Dinas Pertanian bersama inovator lokal ini mampu menangkap uap dingin menjadi air, sebuah langkah preventif di wilayah yang setiap tahunnya mencatatkan 90 hingga 100 desa terdampak kekeringan.

​”Logistik air bersih lewat BPBD sering kali kewalahan dan anggaran cepat habis. Kami akan melakukan white list spending—belanja bijaksana. Daripada anggaran habis untuk pengiriman air yang sifatnya sementara, lebih baik kita investasi pada teknologi ini agar rumah tangga bisa memproduksi air sendiri secara mandiri,” pungkasnya.

 

Editor: Tatang Dahono

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *