EDITORIAL :
Oleh Tatang Dahono Pimpinan Redaksi Maknajatim
MAKNA JATIM – Dua minggu pertama menjabat biasanya menjadi fase “bulan madu” sekaligus pembuktian bagi seorang pucuk pimpinan.
Namun, atmosfer di Dinas Pendidikan Trenggalek justru terasa hambar, bahkan cenderung tertutup.
Agus Dwi Karyanto, yang baru saja dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan, kini menjadi sorotan—bukan karena gebrakannya, melainkan karena sikapnya yang seolah membatasi diri dari ruang publik.
Saat konfirmasi terkait target 100 hari kerja berujung pada alasan yang klise.
Padahal, publik berhak mengetahui ke mana arah kebijakan pendidikan Trenggalek akan dibawa.
Pendidikan bukanlah sektor yang bisa dikelola dengan prinsip “diam itu emas”. Di sana ada persoalan infrastruktur sekolah yang butuh perbaikan cepat, kesejahteraan guru honorer, hingga pemerataan kualitas pendidikan di pelosok Bumi Menak Sopal.
Jika di awal masa jabatan saja seorang kepala dinas sudah enggan menemui awak media untuk memaparkan target kerjanya, muncul pertanyaan besar:
Apakah ada keraguan dalam menyusun prioritas kerja? * Ataukah target 100 hari tersebut memang belum matang dipersiapkan?
Seorang pejabat publik terikat pada amanat transparansi. Target 100 hari kerja bukan sekadar dokumen administratif untuk bupati, melainkan janji moral kepada masyarakat.
Menghindari konfirmasi hanya akan melahirkan spekulasi dan mencederai semangat keterbukaan informasi yang selama ini didengungkan oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek.
Jabatan Kepala Dinas Pendidikan adalah posisi strategis yang memerlukan figur komunikatif dan solutif.
Kita tidak sedang membutuhkan pejabat yang piawai bersembunyi di balik alasan birokrasi, melainkan pemimpin yang berani berdiri di depan untuk menjelaskan langkah-langkah konkretnya.
Waktu terus berjalan. empat belas hari sudah lewat, dan sisa 86 hari menuju tenggat kerja pertama kian menyusut. Publik Trenggalek tidak butuh alasan “sedang sibuk” atau “nanti saja”. Yang dibutuhkan adalah kejelasan: Apa yang akan berubah di wajah pendidikan kita dalam tiga bulan ke depan?
Jangan biarkan kursi baru ini menjadi menara yang sulit dijangkau. Pendidikan adalah investasi masa depan, dan masa depan tidak boleh dikelola dengan sikap menutup diri.(***).


















